EGOISME JABATAN, KESERAKAHAN, ASPIRASI RAKYAT DAN PEMEKARAN

Pada debat capres babak terakhir yang disiarkan live oleh beberapa stasiun televise di negeri ini beberapa waktu yang lalu menggugah perhatian saya tatkala dalam pembacaan topik  yang akan diperdebatkan salah satunya mengenai otonomi daerah ( otoda) “ pemekaran wilayah kabupaen/kota ataupun propinsi”

Mata saya dengan tidak berkedip pun disertai konsentarasi yang tinggi menurut kemampuan pola berpikir dalam mengamati segala perkataan yang dilontarkan oleh para kendidat presiden pun saya amati dengan sebaik-baiknya.

Tiga kandidat Presiden yakni MEGAWATI SOEKARNO PUTRI, DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO, DRS.H. MUH. YUSUF KALLA, akhirnya mengeluarkan pemikiran dan gagasan mereka mengenai esensi pemekaran wilayah tersebut.

Menurut penangkapan telinga saya, mohon di luruskan mungkin saya salah dengar, bahwa pada hakikatnya mereka sepakat bahwa OTODA ataupan PEMEKARAN WILAYAH itu perlu dilakukan untuk lebih mempercepat pembangunan disegala bidang, namun apabila diketemukan dilapangan atau pada prakteknya ternyata pemekaran itu justru menimbulkan masalah maka perlu dilakukan pengkajian ulang “ EVALUASI”, bahkan ditambahkan kalau ternyata itu pemekaran justru hanya menjadi problem maka penggabungan wilayah pun tidak menutup kemungkinan akan ditempuh pemerintah pusat,

DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO yang berhasil terpilih pada capres bulan Juli 2009 yang lalu banyak bercerita tentang pengalamannya selama memimpin dimana banyak daerah yang dimekarkan, entah kabupaten/kota maupun provinsi, di dalam cerita beliau yang saya nilai sebagai wujud curhat sedikit, “ Ada daerah yang dimekarkan malah menimbulkan masalah, dan justru lebih mengherankan tatkala di tanya Bupati ataupun Gubernur yang bersangkutan kenapa dimekarkan kalau belum siap????????? Jawaban tidak ada, karena tidak ada dialog langsung dengan bupati dan gubernur yang bersangkutan, kemudian IKLAN PUN TAYANG.

Saya langsung terbelalak menyaksikan debat capres tersebut. Mengapa tidak, ketiga capres hampir sama pandangannya tentang pemekaran wilayah.

Undang-undang nomor 22 tahun 1999 tentang otonomi daerah, dipandu dengan undang-undang nomor 32 tentang pemekaran, merupakan angin segar bagi daerah kabupaten atau kota untuk berpotensi mengelola sumber daya yang ada di daerah masing-masing dengan “BEBAS HAMBATAN”, Maunya sih begitu, tapi ingat lhoo dengan KPK

Akhirnya usulan pemekaran pun mulai membajiri meja depdagri dan beberapa meja yang dinilai memiliki kapasitas untuk mengkaji daerah yang di usulkan layak untuk dimekarkan, tentunya dengan landasan UU 32 TAHUN 2003 berserta rambu-rambu lainya, dengan alasan yang sangat sakral “ BERDASARKAN ASPIRASI RAKYA”

ATAS NAMA RAKYAT, “ASPIRASI RAKYAT”, menginginkan pemekaran, mau berdiri sendiri, mau mengelola daerahnya sendiri, akhirnya saya menyimpulkan “pada hakekatnya tujuan pemerintah pusat demi untuk mempercepat kesejahteraan rakyat malah yang terjadi, SENJATA MAKAN TUAN, karena kerepotan dengan menangani fitbacknya atau pukulan kembalinya pemekaran, PERSOLAN YANG TIDAK KUNJUNG USAI, yakni “MATI SATU TUMBUH LAGI”/ “ SELESAI SATU MUNCUL LAGI YANG LAIN”, sampai akhirnya salah satu Ketua DPRD Provinsi di negeri harus melayang akibat dituding tidakn koorporatif dengan ASPIRASI RAKYAT yang mengingikan pemekaran. “ KORBAN LAGI NYAWA BELAE”

Jadi saya menulis EGOISME JABATAN, KESERAHAKAN, ASPIRASI
RAKYAT DAN PEMEKARAN, ini saya tulis berdasarkan pengamatan fakta melalui cerita atapun perkembangan yang saya lihat melalui media, termasuk fakta dibeberapa daerah pemekaran kabupaten di Sulawesi Tenggara ini.

Ada cerita menarik yang membuat ngantuk saya hilang waktu berada di dalam kapal SUPER JET dari Bau-Bau ke Kendari, saat itu saya lagi letih akibat goncangan ombak laut yang lagi musin timur. Dalam menikmati ayunan ombak, teman duduk saya pun akhirnya bercerita tentang pengalaman kuliah dan akhirnya bekerja sebagai PNS salah satu insatasi pemerintahan yang ada di daerah kabupaten “ rahasia”. Cerita punya ceritapun akhirnya sampai pada kaitan dengan pemekaran, Sepenggal cerita yang saya ingat, kurang lebih seperti ini,” Dek, pemekaran ini pedis ternyata, bayankan saya lulusan S2 Ilmu Pemerintahan dengan golongan yang sudah cukup tinggi, hanya karena saya tidak pro Bupati yang terpilih sekarang di daerah saya bertugas, saya di tugaskan di Kecamtan sebagai staff, dengan camat saya golongan 3D sementara golongan saya lebih tinggi”…. Itulah sepenggal perkataan orang yang lebih tua dari saya tersebut,,,,,

Saya bertanya dalam hati, dimanakah mekanisme untuk mendudukan jabatan dalam birokasi?, tapi akhirnya saya hanya pendam dalam hati sambil mengingat debat capres, serta bergumam dalam hati kecil saya, “ Pantesan aja diaolog capres udah ada mengenai otonomi daerah dan pemekaran” Logat Jakarta nieeee

Dari uraian di atas, saya mencoba untuk memberikan sebagian analisa saya tentang pemekaran wilayah, saya berasusmsi bahwa ternya salah satu alasan bergeraknya rakyat ( AKSI DEMO) untuk menutut pemekaran tidak murni lahir dari kata hati mereka, mungkin saja hanya karena mereka diiming-imingi kalau dareah kita dimekarkan maka kehidupan bapak yang tadinya nelayan, petani, buruh akan lebih baik dari hari ini. Yang pada akhirnya semangat membara ibaratkan mau menutut kemerdekaan dari kaum penjajah. Padahal, tidak disadari mekar pun belum tentu petani jadi camat, buruh bisa hidupnya lebih baik, sebab tidak mungkin uang Negara yang dikatakan para penggagas akan dibagi-bagi terhadap rakyat, sebab boleh jadi yang mencetuskan itu ada target tertentu apabila daerah itu mekar. Apakah target menduduki jabatan pemerinahan kalau seandainya PNS, target mau calon kepala daerah, bahkan target untuk mengeploitasi perekonomian apabila memiliki modal besar. Ini menurut saya bisa saja terjadi dalam proses pengusulan pemekaran sebuah daerah pemekaran..

Mengapa saya berani katakana demikian? Banyak persoalan muncul di daerah pemekaran baru, mulai dari persoalan korupsi sampai pada kebebasan meraup uang rakyat serta yang lebih para melakukan kolaborasi dalam pemungutan uang saat penerimaan CPNSD (Kasus Buton utara Sulawesi Tenggara).

Akhirnya saya menilai lahirnya gagasan untuk sebuah pemekaran perlu diwaspai jangan sampai malah akan menjurus secara tidak langsung untuk membangkan terhadap pemerintah pusat dalam koridor keutuhan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia, itu bisa saja terjadi, karena ada daerah pemekaran yang secara tidak langsung tidak mau tunduk dan patuh terhadap Undang-Undang Negara ini yakni salah satunya, DAERAH PEMEKARAN KABUPATEN BUTON UTARA, UU NOMOR 14 TAHUN 2007 tidak di putahi seutuhnya, hanya mematuhi dan bertepuk tangan pada kalimat telah resmi dimekarkannya Butur, tetapi pasal-pasalnya di dalam di abaikan, dalam hal ini pasal 7 Penempatan dan letak serta kedudukan Ibu Kota Kabupaten ( BURANGA)..

Disadari ataupun tidak, itu merupakan sikap yang nakal “ guyonannya orang jawa githu lhoo ”, kerana ibaratkan anak membangkang terhadap perintah orang tuanya padahal demi kebaikan,

Saya akhirnya menyimpulkan bahwa pemekaran merupakan muara atau kolaborasi yang sempurnya dimana didalamnya termuat “EGEOISME JABATAN ATAU KESERAKAHAN ELIT TERTENTU, DENGAN MENGATAS NAMAKAN RAKYAT AGAR DIMEKARKANNYA SUATU WILAYAH”, padahal itu hanyalah perkataan bohong belaka, dengan alibi demi untuk kesejahteraan rakyat,

Jadi, solusinya yakni, mari kita wujudkan pemekaran dengan niat yang tulus jangan mengorbankan rakyat hanya karena untuk memenuhi egoisme hidup kita, semua menjadi tanggung jawab moril kita, sebab mesti di inggat hidup ada matinya, dan sebagai manusia yang percaya akan “KETUAHAN YANG MAHA ESA”, “KITA MESTI TELANJANG DAN BENAR-BENAR BERSIH”, seperti lagunya Ebiet itu.

Sekian ulasan saya, mohon untuk di koreksi, Koreksi anda merupakan rahmat dan kesyukuran yang tida duanya bagi saya Karena kita memang harus saling mengingatkan”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s